http://books.google.co.id/books?id=jC0xxehrArQC&lpg=PA253&dq=sejarah%20minang&lr=lang_id&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&client=firefox-a&pg=PA118#v=onepage&q=&f=true
Selengkapnya...
Kamis, 13 Agustus 2009
adat minangkabau
Selasa, 10 Februari 2009
Sejarah Melayu-Campa
Kerajaan Campa dari zaman ke zaman
Campa, menurut literatur Cina bernama Lin Yi, yang muncul pada tahun 192 Masehi, terletak di bahagian tengah negeri Vietnam sekarang, antara Gate of Annam (Hoanh Son) di utara dan Sungai Donnai di selatan. Penduduk Lin Yi bertutur dalam bahasa Cam dari rumpun Austronesia. Sejak awal Lin Yi merupakan negeri yang takluk pada Cina dan membayar upeti kepadanya. Nama “Campa” disebut (dan dipakai) pertama kali dalam dua buah inskripsi bahasa Sanskerta, satunya bertarikh 658 yang ditemui di bagian tengah Vietnam dan satu lagi ditemui pada tahun 668 di Kampuchea. Pada abad kelapan, merupakan kemuncak kerajaan Campa, yang ditandai dengan keluasan wilayahnya dan kemajuan peradabannya. Pada masa ini Campa merupakan sebuah kerajaan persekutuan yang terdiri dari lima kerajaan negeri : Indrapura, Amarawati, Vijaya, Kauthara dan Panduranga, yang masing-masing kerajaan negeri itu mempunyai pentadbiran masing-masing yang otonom, dengan ibu negara Indrapura (Quang Nam sekarang).
Kerajaan Campa mempunyai hubungan diplomatik dengan kerajaan jiran dan tetangganya. Dengan Cina dan Vietnam di utara, Kampuchea di barat dan Nusantara di selatan. Campa secara teratur mengirim utusan-utusan, dan delegasi serta mengadakan hubungan ekonomi dan keagamaan dengan Cina. Ajaran agama yang dianut masyarakat Campa pada abad kelapan dan sembilan adalah Budha Mahayana yang sampai ke Campa melalui sami yang datang dari Cina. Hubungan dengan Nusantara bermula ketika terjadi rompakan besar-besaran oleh orang Jawa pada penghujung abad kelapan. Dan hubungan itu menjadi lebih baik dalam bentuk hubungan perdagangan dan persahabatan
Pada abad ke sembilan terjadi peralihan orientasi Campa dari Cina ke India. Mulai zaman ini tamadun Campa termasuk sistem sosial, keagamaan dan lain sebagainya, dipengaruhi oleh Budaya India yang beragama Hindu dan Budha. Pada 939 muncul kekuatan baru di wilayah ini yakni Dai Viet (kemudian menjadi Vietnam), dan mulai sejak itu terjadi peperangan yang berkepanjangan antara Vietnam dan Campa, dan pada 982 Vietnam berhasil menghancurkan ibu kerajaan Indrapura, dan raja Campa memindahkannya jauh ke selatan yakni ke Vijaya (Binh Dinh sekarang), bahkan pada 1044 Dai Viet (Vietnam) berhasil menduduki kota Vijaya dan membunuh rajanya. Berbagai usaha pernah dilakukan raja-raja Campa untuk membalas dendam dan menyerang Vietnam, tapi kenyataannya pada setiap penyerangan, justru Vietnam semakin dapat memperbesar wilayahnya dan mencaplok Campa. Pernah kerajaan Campa kembali pada kejayaannya dalam waktu singkat, ketika diperintah oleh Che Bong Nga (1360-1390), karena dia berusaha mengembalikan wilayah yang dirampas Vietnam, dan dia memerintah dengan cukup adil dan berjaya memerangi lanun.
Pada 1471 raja Vietnam Le Thanh Tong menyerang Campa secara besar-besaran, dan menghancurkan Vijaya, membunuh lebih 40.000 penduduk, mengusir lebih dari 30.000 lainnya dari bumi Campa, dan bahkan menghancurkan apa saja sisa-sisa kebudayaan Campa yang dipengaruhi Hindu/Budha, dan kemudian menggantikannya dengan kebudayaan Cina/Vietnam. Dengan kemenangan Le Thanh Tong pada 1471 itu, maka tamatlah riwayat Kerajaan Campa belahan utara, khususnya Indrapura, Amarawati dan Vijaya.
Selanjutnya yang bertahan adalah sisa-sisa kerajaan Campa belahan selatan Kauthara dan Panduranga yang diperintahi oleh Bo Tri Tri dan pengganti-penggantinya. Kerajaan Campa mulai menerima kebudayaan Melayu serta Islam yang masuk melalui pelabuhan Panduranga dan Kauthara, dan meningkatkan hubungan dengan tanah Melayu dan Nusantara, dikabarkan raja Campa bernama Po Klau Halu (1579-1603) sudah memeluk Islam, bahkan telah menghantar tentaranya untuk membantu Sultan Johor di Semnenanjung Tanah Melayu untuk menentang Portugis di Melaka tahun 1511.
Namun sayang sekali lagi raja Nguyen dari Vietnam menaklukan Kauthara (1659) dan Panduranga (1697). Raja Panduranga terakhir Po Cei Brei terpaksa mengungsi meninggalkan negerinya bersama ribuan pengikutnya menuju Rong Damrei di Kampuchea. Pada 1832, Penguasa Vietnam Minh Menh melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap sisa-sisa terakhir penduduk Campa Panduranga, merampas seluruh sawah ladang mereka, dan memasukkan wilayah Panduranga menjadi bagian Vietnam. Dan hal itu menandai lenyapnya Sisa Kerajaan Campa terakhir dari peta bumi untuk selamanya, walaupun kebudayaan dan etnik Campa tetap berlanjut tapi sudah berada di pengungsian yakni Kampuchea.
Kehadiran Orang Campa dan Melayu di Kampuchea
Seperti telah diuraikan sebelumnya, ramai orang Campa yang meninggalkan tanah airnya karena desakan Nam tien atau pergerakan orang-orang Vietnam ke selatan. Untuk menyelamatkan diri mereka hijrah ke Kampuchea. Di Kampuchea mereka bertemu dengan kelompok Melayu yang datang dari Nusantara. Terjadilah akulturasi budaya karena persamaan agama, dan rumpun bahasa Austronesia, ke dalam masyarakat baru yang disebut Melayu-Campa atau Jva-Cam.
Kehadiran masyarakat Melayu di Kampuchea bermula sejak beberapa abad sebelumnya. Sumber-sumber Khmer menyebutkan bahwa dalam abad ke 7, kaum Jva telah menghuni beberapa wilayah Khmer yang datang sebagai pedagang, pelaut dan tentara laut.
Semasa abad ke 15 hubungan dunia Melayu dan Kampuchea meningkat dari segi ekonomi dan agama. Ramai pedagang dan penyebar agama tiba di Kampuchea. Menurut sumber-sumber Melayu di Kampuchea, kebanyakan orang Melayu berasal dari Borneo, Jawa, Sumatera, Singapura, Trenggano dan Patani. Bahkan untuk waktu-waktu tertentu ketua-ketua Melayu telah menjalin kerjasama dan saling membantu dengan Raja-raja Khmer.
Gelombang migrasi masyarakat Campa di Kampuchea adalah selepas 1471 ketika Vietnam menduduki Vijaya, gelombang berikutnya selepas 1697 ketika Vietnam menduduki Panduranga, dan terakhir karena mengalami siksaan luar biasa pada 1832. Migrasi Campa berlaku karena melarikan diri dari penghancuran Vietnanm, sedang migrasi Melayu dari Nusantara terjadi karena perdagangan dan penyebaran agama Islam. Dan kedua etnik berbeda asal usul ini bersatu dalam satu agama yakni Islam di negeri asing bernama Kampuchea. Kedua suku ini karena persamaan nasib, dan persamaan agama, akhirnya bekerjasama dan bercampur sehingga melahirkan etnik baru yang disebut Melayu-Campa. Oleh penguasa Khmer masyarakat Melayu-Campa ini dipersilahkan untuk berdiam di wilayah Oudong (ibu nregara Khmer waktu itu), wilayah Thbaung Khmum, Stung Trang dan daerah-daerah Kompot, Battambang dan Kampung Luong sekarang ini.
Masyarakat Melayu-Campa membentuk satu komuniti khusus yang dikenali sebagai ”Cam-Jva”. Perkataan ”jva” berasal dari perkataan ”Jawa” yang ditafsirkan masyarakat Kampuchea sebagai semua masyarakat Melayu dari manapun asalnya. Mungkin mereka berasal dari Pulau Jawa, Sumatera atau mana-mana negeri di Semenanjung Tanah Melayu dan Patani. Istilah ”cam” merujuk kepada penduduk yang berasal dari kerajaan Campa yang pada zaman dahulu terletak di tengah Vietnam sekarang. Karena kedua-dua masyarakat Melayu dan Cam menganut agama Islam dan tergolong di dalam kelompok linguistik Austronesia, maka masyarakat Khmer menggolongkan mereka kepada kelompok ”Cam-Jva” atau ”Melayu-Campa”.
Pada tahun 1874 penduduk Melayu-Cam berjumlah 25.599 orang. Sepuluh persen penduduk Phnom Penh adalah Melayu-Cam. Di daerah-daerah pemukiman Melayu-Campa ini banyak kita temui Masjid dan surau, serta tempat pendidikan agama. Kebanyakan Melayu-Campa bekerja sebagai peladang, nelayan, peternak lembu dan peniaga yang handal, sebahagian lainnya berkhidmat selaku kaki tangan kerajaan, mulai dari pegawai peringakat kampung chumtup, mekhum, mesrok dan chaway srok, bahkan juga ada yang berkhidmat sebagai tentara dan memegang jabatan politik.
Keseluruhan membuktikan bahwa masyarakat Melayu-Cam telah benar-benar merasa Kampuchea sebagai negara bangsanya sendiri tanpa terkecuali, dan telah memberikan kesetiaannya kepada Kampuchea, termasuk ketika penjajahan Perancis. Sebaliknya pemerintah Khmer tidak menganggap Melayu-Cam sebagai pendatang dan orang asing, tapi warga negara bukan pribumi, sebagaimana banyak warga semacam itu lainnya.
Kampuchea merdeka dari jajahan Perancis tanggal 9 Nopember 1953, di bawah kepala Negara Norodom Sihanouk. Namun sayangnya masyarakat Melayu-Cam tidak disebutkan dari sudut etniknya, yakni etnik Melayu-Cam, tapi disebut Khmer Islam, sebutan yang dipopulerkan hingga ke hari ini.
Belakangan kelompok-kelompok minoriti yang dilindungi di kawasan Pays Montagards du Sud (PMS) yang merangkumi Kontum, Pleiku, Ban Methuot, Djing dan Dalat yang terdapat di Vietnam Selatan, dihapuskan dan seluruhnya dianggap masyarakat Vietnam. Hal yang sama juga dialami oleh sisa-sisa minoriti Cam di Vietnam dan Khmer Krom (masyarakat Khmer yang berdiam di Vietnam Selatan). Oleh sebab itu, masyarakat Melayu-Cam di Kampuchea berusaha berjuang bersama masyarakat PMS di Vietnam dan orang-orang Khmer Krom, membentuk perikatan yang disebut FULRO (Front Unifie de Lutte des Races Oprimees atau Barisan Pembebasan Ras-ras Tertindas). FULRO merangkumi gabungan Front de Liberation du Champa (Barisan Pembebasan Campa), Front de Liberation du Kampuchea Krom (Barisan Pembebasan Kampuchea Krom) dan Front de Liberation du Kampuchea Nord (Barisan Pembebasan Kampuchea Utara).
Ahli jabatan kuasa FULRO terdiri dari Presiden Chau Dara dan dua orang naib presiden: Y. Bham Enoul (seorang Rade dari Ban Methuot) dan Po Nagar (seorang tentara Kapuchea yang berasal dari Kompong Cam, yang di kalangan Islam dikenali dengan Les Kosem). Les Kosem seorang tentara payung terjun Kapuchea, yang pada tahun 1970 dilantik menjadi general, dia merupakan pimpinan Mulayu-Cam yang berpengaruh dalam angkatan tentara dan politik Khmer. Pada masa pemerintahan Lon Nol, nasib Melayu-Cam agak lebih baik, karena kepercayaan dan berbagai posisi diberikan pada Melayu-Cam dan FULRO. Les Kosem ditunjuk menjadi mediator dalam menyelesaiukan berbagai konflik intern Muslim dan perwakilan Kapuchea ke berbagai negara Muslim. Tapi setelah kejatuhan Kampuchea ketangan Khmer Rouge, Les Kosem melarikan diri ke Malaysia dan meninggal di Kuala Lumpur tahun 1976.
Semasa rezim Pol Pot dari Khmer Rouge (1975-1979), beribu-ribu orang Kampuchea telah diseksa dan dibunuh karena diyakini bekerjasama dengan rezim Lon Nol dan karena alasan agama yang dianutnya. Seperti diketahui bahwa Khmer Rouge adalah penganut ajaran Komunisme radikal, dan menghalang kebebasan beragama. Melayu-Cam yang beragama Islam merasakan penderitaan yang amat sangat berat. Masyarakat Melayu-Cam dan Khmer Islam dipaksa meninggalkan tradisi keagamaan mereka, nama yang memiliki konotasi Islam, dihapuskan, Masjid dan madrasah tidak difungsikan atau dikurangi jumlahnya, kebiasaan-kebiasaan agama lainnya dihapuskan. Al-Qur’an dan bacaan-bacaan keagamaan lainnya dimusnahkan. Budaya dalam bentuk aktifiti-aktifiti, pakaian, makanan dan asesoris Islam lainnya dilenyapkan, termasuk nama dan gelaran keagamaan.
Pada tanggal 17 April 1975, pasukan khusus Khmer Rouge yang disebut Angkar, telah melakukan pencarian dan penyisiran diikuti penyiksaan terhadap siapa saja yang mereka curigai mengikut Lon Nol. Pada 20 Mei 1975, Pol Pot telah melakukan diskriminasi sosial berdasarkan pilihan politik dan agamanya, sehingga yang ada hanya dua pilihan: ”ikut Pol Pot atau menolak Pol Pot”. Mereka yang dianggap menolak Pol Pot mengalami nasib yang tidak pernah terjadi dalam sejarah umat manusia, yakni pembantaian besar-besaran.
Diperkirakan antara satu sampai tiga juta rakyat telah dibunuh atau mati karena kekurangan makanan, satu juta diantaranya adalah Melayu-Campa. Dan lebih kurang enam juta lainnya mengalami trauma berat karena ketakutan yang sangat berat. Umat Islam karena alasan ideologi dan keagamaan serta merupakan ”kaum pendatang” merupakan umat paling menderita, mereka dipaksa berpisah dengan kaum sesama umat Islam, atau diusir ke hutan dan gunung atau bagi yang mampu ada yang melarikan diri ke Luar Negeri, yang paling banyak lari ke Kelantan (Malaysia), Vietnam dan Thailand serta negara-negara barat.
Walaupun Kher Rouge hanya memerintah selama empat tahun, tapi akibatnya dari aspek budaya, banyak rakyat Khmer Islam dan Melayu-Camp yang sudah tidak kenal agamanya, tidak pandai tulis baca Arab dan Campa. Pol Pot berhasil mengikis habis identitas keislaman dan Ke-Campa orang-orang Melayu Campa.
Barulah setelah kejatuhan rezim Pol Pot dan diperintah oleh Hun Sen dan Raja Sihanouk, masyarakat Melayu-Cam/Khmer Islam kembali merasakan sedikit kemerdekaan beragama. Masjid sudah mulai difungsikan kembali demikian juga madrasah-madrasah. Masyarakat Islam diletakkan di bawah majlis yang terdiri dari enam orang yang dilantik oleh raja. Majlis Agama Islam Kampuchea (MAIK) dipimpin oleh seorang Changvang (mufti), sekarang dijabat oleh Uztadz Kamaruddin Yusof, dibantu oleh dua orang Pembantu Mufti (sekarang Uztadz Yusof Kadir dan Uztadz Arsyad), dilengkapi dengan tiga orang Penasehat (sekarang YB Math Ly, YB Tol Loh dan YB Ismail Osman). Di setiap kampung terdapat seorang pemimpin spritual bergelar Hakim. Di daerah Trea (Kompong Cham) ditubuhkan sekolah Madrasa Hafiz al-Qur’an, kemudian diikuti Sekolah Dubai di KM 9 Pnomh Penh, Darul Aitam di Pochentong, Serkolah Ummul Kura di Chrouy Metrei. Madrasa Hajjah Rohimah Tambichik di Nohor Ban dan Ma’had al-Muhammady di Beng Pruol. Sebenarnya sebelum rezim Kher Rouge memerintah Kampuchea, banyak pelajar Kampuchea melanjutkan pelajarannya ke Malaysia, Thailand Selatan, Egypt, Arab Saudi dan Kuwait.
Saat ini solidaritas dari badan-badan Islam Internasional, dan umat Islam antara bangsa telah muncul, karena nasib umat Islam di Kampuchea yang begitu menyedihkan. Rabithah Alam Islami di Mekah, Konferensi Negara-Negara Islam (OIC) dan lain sebagainya telah menya
lurkan berbagai bantuan, mulai dari pengiriman mushaf Al-Qur’an sampai bantuan rehabilitasi Masjid dan melakukan advokasi (pembelaan) nasib umat Islam tersebut. Lembaga-lembaga keagamaan, seperti Jema’ah Tabligh dan Darul Arqam serta Regional Islamic Da’wah Council of South East Asia And Pacific (RISEAP) dari Malaysia mendatangkan guru dan pendakwah/ulama serta melakukan berbagai kunjungan silaturrahmi. Saat ini sudah dikukuhkan 320 buah kampung orang Islam, 110 diantaranya terdapat di propinsi Kompong Cham, juga sudah dipulihkan fungsinya dan direhabilitasi bangunannya sebanyak 270 masjid dan surau, dan dikikuhkan 600 orang Tuan dan Hakim. Propinsi lainnya yang juga kuat umat Islamnya adalah Propinsi Battambang dan Kampot.
Di Kampuchea terdapat empat persatuan Umat Islam: yakni Samakum Islam Kampuchea (Persatuan Islam Kampuchea) di bawah kepimpinan YB Math Ly. Samakum Khmer Islam Kampuchea (Persatuan Khmer Islam Kampuchea) dipimpin oleh YB Wan Math. Samakun Islam Preah Reach Anachakr Kampuchea (Persatuan Islam Kerajaan Kampouchea) di bawah pimpinan YB Ahmad Yahya, Dan Samakum Cham Islam Kampuchea (Persatuan Cam Islam Kampuchea) diketuai guru bernama Guru Zain yang tinggal di Prek Pra. Kedua-dua istilah: Khmer Islam dan Cam sama-sama diterima dan dipakai secara resmi. Selanjutnya juga ada Yayasan seperti Cambodian Muslim Development Foundation dan Combodian Islamic Development Community. Dan tentu saja tidak boleh dilupakan adalah organisasi intelektual Muslim Kampuchea Cambodian Muslim Intelectual Alliance (CMIA) yang menyelenggarakan acara kita saat ini.
Adapun tokoh-tokoh Islam Kampuchea yang terkenal karena posisinya yang dekat dengan pantadbiran antara lain: YB Math Ly (ahli parlemen, timbalan Perdana Menteri dan bekas Menteri Pendidikan). Onkha Othman Hassan (ahli parlemen, penasehat Perdana Menteri), YB Ahmad Yahya (Ahli parlemen), HE Ismail Yusoff (ahli parlemen), YB Ismail Osman (Ahli parlemen dan timbalan menteri di kementrian Hal Ehwal Kepercayaan dan Agama). YB Zakariyya Adam Osman (timbalan Menteri di Kementrian Hal Ehwal Kepercayaan dan Agama).
Hubungan Budaya Melayu Campa dan Asia Tenggara
Seperti sudah disebutkan, terdapat dua etnik yang menyatu di Kampuchea, yakni Melayu-Cam. Orang Kampuchea menyebut mereka dengan ”Cam-Jva”. Istilah ”jva”, yang berasal dari perkataan Jawa. Walaupun di Kampuchea istilah ”Jva” tidak di maksudkan hanya untuk orang Jawa, tapi seluruh orang Melayu atau Nusantara, termasuk Semenanjung Tanah Melayu dan Patani. Sedang ”Cam”, atau Cham berasal dari etnik atau (kerajaan lama) Campa.
Kalau orang Melayu merantau dari Tanah Melayu atau Nusantara, maka orang Cam mengungsi secara besar-besaran dari tanah asal mereka di bagian tengah Vietnam sekarang, dan keduanya yang kebetulan berasal dari rumpun bahasa yang sama yakni Austronesia, dan belakangan mempunyai agama yang sama, yakni Islam, maka kedua etnik tersebut dengan cepat menyatu dan melahirkan etnik Jva-cam atau Melayu–Campa.
Walaupun orang Kampuchea tidak dapat membezakan orang Melayu, tapi dari kalangan Melayu sendiri, membagi Melayu menjadi tiga kategori: (1) Orang Jva Krabi (dalam bentuk tulisan Chhvea Krabei) menunjukkan orang Melayu yang berasal dari Pulau Sumatera, khususnya Minangkabau. Krapi dalam bahasa Kampuchea berarti “Kerbau”, diperkirakan menggunakan istilah Jva Krabi, karena konon kabarnya dahulu kala kerbau orang Minangkabau menang melawan kerbau yang dibawa dari Jawa. (2) Orang Jva Ijava (Chhvea iava), maksudnya orang Melayu yang berasal dari Pulau Jawa. (3) Orang Jva Malayu (chhvea Malayou), menunjukkan orang Melayu yang datang dari negeri-negeri Semenanjung Tanah Melayu dan Patani.
Hijrahnya orang Melayu dari Nusantara, dalam rangka berdagang atau karena mereka anak maritim yang senang mngembara dilautan lepas, diperkirakan setelah masuknya Islam di Nusantara, sehingga mereka ikut membawa Islam ke Kampuchea. Proses imigrasi itu diperkirakan berlangsungabad ke 13 dan 14. Orang Melayu telah memainkan perannya yang besar dalam mengajarkan Islam di Kampuchea. Raja Khmer sering memberi gelaran kepada tokoh-tokoh Islam, seperti ”Onkha To Koley”, berasal dari Ukana To’ Kali. Koley berasal dari kata Kalih (bahasa Melayu) atau Kadi (bahasa Arab yang berarti Hakim). Gelaran ”Onkha Reachea Mu Sti”, berasal dari Ukana Raja Mufti. Mufti (bahasa Arab berarti pemberi fatwa), sedang ”Onkha Reachea Peanich”, berasal dari Ukana Raja Sampatti, senopati (bahasa Jawa yang berarti perwira) yang bertanggug jawab dalam bidang perniagaan dan ekonomi.
Pada akhir abad ke 16, sumber-sumber Khmer menyebutkan terdapat dua tokoh Melayu-Cam, bernama Po Rat atau Cancona (berasal dari Cam) dan Laksmana (dari Melayu), yang berbakti pada Raja Ram I (Ram dari Joen Brai (1594-1596), kedua mereka ini dikenal sebagai pemimpin tentara yang sangat kuat dan handal, dan dipercaya memadamkan berbagai pemberontakan dan diantar memimpin ekspedisi ke berbagai wilayah. Sebagai balas jasa, Raja Khmer menghadiahkan wilayah Thbaung Khum untuk mereka jadikan sebagai tempat tinggal keturunan dan masyarakat Islam lainnya.
Menjelang abad ke 17, orang Melayu berhasil mengislamkan raja Khmer Ramadhipati I (Cau Bana Cand) (1642-1658), diperkirakan masuk Islamnya Raja Ramadhipati I ini karena kuatnya lobbi dan pengaruh Islam di istana, sehingga hanya dengan ikut Islam, kekuasaan raja tersebut akan dapat bertahan. Raja Ramadhipati I merupakan satu-satunya raja Khmer yang masuk Islam sampai masa belakangan.
Untuk zaman akhir ini, Malaysia merupakan negara Melayu yang sangat giat melaksanakan pengakajian masalah Campa dan kaitannya dengan Dunia Melayu, pengkajian itu dilakukan bersama Ecole Francaise d’Extreme Orient, sehingga sejarah Kerajaan Campa dan kaitannya dengan Melayu, dapat dibuka tabir rahasianya yang terbenam bersama lenyapnya Kerajaan Campa itu. Dan khusus bagi Indonesia, sebenarnya Campa merupakan wilayah budaya yang mempunyai tempat istimewa – khususnya pada masa klasik, zaman Majapahit dan Sriwijaya, di mana wilayah pergaulan budayanya sampai ke daerah Campa – perdagangan dan pertukarangan budaya berjalan sangat intensif. Bahkan dalam ceita lama, dikatakan bahwa seorang puteri Cantik Campa bernama Gayatri telah dipersunting oleh raja muda Singosari, menunjukakan bagaimana hubungan itu telah terjalin sejak lama.
Untuk masa hadapan, perlu diperkuatkan lagi kerjasama akademik antara Indonesia dan Malaysia bagi menubuhkan penggalian khazanah lama, pengkajian Hubungan Melayu-Campa dan Dunia Melayu, dalam kerangka persepahaman dunia, dalam kerangka kerjasama umat Islam sedunia.
Selengkapnya...
Sabtu, 07 Februari 2009
Aku Malu di urus oleh Walikota, Bupati, Gubernur, Menteri, Presiden Indonesia ”
Bandara Soekarno-Hatta lumpuh akibat banjir di sejumlah titik Tol Sedyatmo, yang menghubungkan Jakarta dengan bandara internasional tersebut. Gerbang pertama—sekaligus wajah pertama—menuju dan keluar Indonesia itu limbung. Antara 1-3 Februari lalu, penerbangan terpaksa dialihkan ke Halim Perdanakusuma, Palembang, Semarang, Surabaya dan bahkan Singapura! Di antara 30-40 ribu penumpang yang setiap hari datang dan pergi lewat Soekarno-Hatta, sekian ribu pastilah warga negara asing. Di mana akan ditaruh muka kita?
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
Bandara Soekarno-Hatta lumpuh akibat banjir di sejumlah titik Tol Sedyatmo, yang menghubungkan Jakarta dengan bandara internasional tersebut. Gerbang pertama—sekaligus wajah pertama—menuju dan keluar Indonesia itu limbung. Antara 1-3 Februari lalu, penerbangan terpaksa dialihkan ke Halim Perdanakusuma, Palembang, Semarang, Surabaya dan bahkan Singapura! Di antara 30-40 ribu penumpang yang setiap hari datang dan pergi lewat Soekarno-Hatta, sekian ribu pastilah warga negara asing. Di mana akan ditaruh muka kita?
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
Saya bukan pembaca setia Taufiq Ismail, penyair angkatan 1966 yang hingga kini masih berkiprah dan menyantuni sastra Indonesia. Namun izinkan saya mengutip sepenggal sajaknya yang sangat relevan dengan Indonesia 2008. Sajak “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” yang ditulis Taufiq tahun 1998 menampar muka Indonesia dengan telak, telak sekali.Setelak rasa malu negara kita menyaksikan Bandara Soekarno-Hatta lumpuh akibat banjir di sejumlah titik Tol Sedyatmo, yang menghubungkan Jakarta dengan bandara internasional tersebut. Gerbang pertama—sekaligus wajah pertama—menuju dan keluar Indonesia itu limbung. Antara 1-3 Februari lalu, penerbangan terpaksa dialihkan ke Halim Perdanakusuma, Palembang, Semarang, Surabaya dan bahkan Singapura! Di antara 30-40 ribu penumpang yang setiap hari datang dan pergi lewat Soekarno-Hatta, sekian ribu pastilah warga negara asing. Di mana akan ditaruh muka kita?
Taufiq terpukau wajah indah kota-kota di belahan bumi yang disinggahinya lewat sajaknya itu. Sang “Aku” yang diceritakan Taufiq adalah orang Indonesia yang kosmopolit, ia melanglang buana, menyusuri kota antarbenua dan menyaksikan keelokan kota dengan lanskap tersusun rapi. “Aku” mendapati kota yang berbeda ketimbang kota-kota di tanah air, sebuah kontras yang membuatnya menyembunyikan identitas sebagai “orang” Indonesia. “Aku” menyembunyikan “Indonesia” di balik kacamata hitam dan topi baret.
Apa yang bisa dibanggakan orang Indonesia tentang negerinya yang tersapu gelombang krisis sejak 1997. Harapan agar kesejahteraan hidup membaik tak kunjung terwujud. Selagi pemerintah memompa asa lewat kinerja ekonomi makro yang lumayan kinclong, negeri ini bertekuk lutut pada banjir. Banjir 2007 menyapu Jakarta membikin “tradisi lima tahunan” bak hantu.
Awal 2008, banjir menghempang Jawa Tengah dan Jawa Timur—sepanjang aliran Bengawan Solo. Negeri ini dipaksa menyerah. Ada yang mengambinghitamkan alam, padahal dengan itu mereka “yang lempar batu sembunyi tangan itu,” menepuk air ke mukanya sendiri. Bukankah kerusakan alam, terutama hutan di hulu hingga hilir Bengawan Solo berasal dari tabiat manusia yang tak lagi mencintai alam?
Banjir dan selaksa bencana tak pelak membuat produksi bahan pangan minus. Sebentar lagi “air bah” impor beras, jagung, kedelai hingga gandum akan menggerojok Indonesia. Negeri ini akan menjadi pasar—dan sudah!—yang besar bagi komoditas pertanian negara lain. Akibatnya, bisa ditebak warga miskin merasakan “gempa” dahsyat di dapur mereka sendiri. Sembako tak terbeli, lapar membelit dan kebahagiaan ke mana sudah!
Belum lepas “luka” yang membetot warga sekitar aliran Bengawan Solo, banjir menghempang KM 25-27 Tol Sedyatmo. Bukan kebetulan jika titik banjir itu berada di lokasi sama dengan kejadian tahun 1999. Kala itu, selama empat hari (28-31 Januari 1999), Tol Sedyatmo di ruas KM 26-28 tergenang air. Praktis pada hari pertama kejadian, tak kurang dari 121 jadwal keberangkatan pesawat tertunda.
Dan kini, setiap hujan deras turun, Tol Sedyatmo seolah menjadi pemandangan runyam. Air menjadi menakutkan. Bukan hanya menggenang. Persoalannya, lebih pelik dari itu. Siapa saja—khususnya mereka calon penumpang berbagai maskapai—yang hendak pergi dan keluar Jakarta harus tersiksa. Memilih jalan memutar dengan kemacetan yang parah. Atau pasrah, tiket penerbangan hangus lantaran terlambat tiba di bandara. Apabila hujan berlama-lama turun di Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta tak sanggup lagi memanggul “peran” sebagai gerbang pertama menuju Indonesia.
Yang jelas, banjir di Tol Sedyatmo awal Februari 2008 bukanlah yang pertama. Banjir sudah terjadi tahun 1995 silam. Telunjuk sudah diarahkan ke sana-sini. Berbagai alternatif ditawarkan. Tapi, tetap saja solusi belum ada. Sekarang, usulan membuat jalan layang membubung tinggi. Kata akhir belum diputus! Sampai terwujudnya rekayasa teknologi—entah kapan—yang menyelesaikan masalah, banjir di Tol Sedyatmo hanya bisa dihambat satu hal: hujan menghilang dari Jakarta. Dan, itu berarti bergantung pada kebaikan Tuhan semata
Selengkapnya...
Sabtu, 27 Desember 2008
Gulai Kepala Ikan Kakap Merah
Bahan :
* I kg kepala ikan kakap merah
* 2 buah asam kandis/ asam jawa
* 5 lembar daun jeruk
* 2 lembar daun salam
* 3 batang serai dimemarkan
* 200 ml santan kental
* 1000 ml santan encer
* 4 sdm minyak goreng
Bahan :
* I kg kepala ikan kakap merah
* 2 buah asam kandis/ asam jawa
* 5 lembar daun jeruk
* 2 lembar daun salam
* 3 batang serai dimemarkan
* 200 ml santan kental
* 1000 ml santan encer
* 4 sdm minyak goreng
Bumbu yang dihaluskan:
* 7 buah cabe merah
* 4 siung bawang putih
* 5 buah bawang merah
* 3 cm kunyit
* 3 cm jahe
* 3 cm lengkuas
* 1 sdm ketumbar disangan
* 11/2 garam
* 1 sdm gula pasirBahan :
Bumbu yang dihaluskan:
* 7 buah cabe merah
* 4 siung bawang putih
* 5 buah bawang merah
* 3 cm kunyit
* 3 cm jahe
* 3 cm lengkuas
* 1 sdm ketumbar disangan
* 11/2 garam
* 1 sdm gula pasirBahan :
Bumbu yang dihaluskan:
* 7 buah cabe merah
* 4 siung bawang putih
* 5 buah bawang merah
* 3 cm kunyit
* 3 cm jahe
* 3 cm lengkuas
* 1 sdm ketumbar disangan
* 11/2 garam
* 1 sdm gula pasirBahan :
Bumbu yang dihaluskan:
* 7 buah cabe merah
* 4 siung bawang putih
* 5 buah bawang merah
* 3 cm kunyit
* 3 cm jahe
* 3 cm lengkuas
* 1 sdm ketumbar disangan
* 11/2 garam
* 1 sdm gula pasir
Cara Membuat :
* Tumis bumbu yang dihaluskan dan bumbu yg tidak dihaluskan hingga harum benar dan bumbu matang.
* Masukkan kepala ikan, tumis kembali hingga kepala dan ikan berubah warna.
* Masukkan 500 ml santan encer, kecilkan api dan tutup.
* Masak hingga 15 menit, kemudian masukkan sisa santan encer dan masak hingga semua matang.
* Terakhir masukkan santan kental, aduk-aduk sesaat dan matikan api.
* Lebih nikmat setelah dingin dipanaskan sekali lagi dan dihidangkan hangat-hangat. Selamat mencoba!
Tip supaya ikan tidak amis :
* lumuri ikan dengan cuka dan gula pasir, aduk-aduk hingga rata, diamkan 15 menit dan cuci bersih. Ikan pun siap dimasak.
Selengkapnya...
| Reaksi: |
Senin, 01 Desember 2008
IV Angkat Canduang

IV Angkat Canduang adalah kecamatan di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Kecamatan ini terletak di dataran tinggi Agam, yang bergelombang dengan ketinggian 900 – 1200 meter di atas permukaan laut dengan ibu kotanya Biaro. Jarak Biaro dengan ibu kota Kabupaten Agam adalah 74 km. Luas kecamatan secara keseluruhan, termasuk wilayah Pembantu Kecamatan adalah 8.697 Ha2 yang terdiri dari:
1. Wilayah Kecamatan Induk seluas 3.753 Ha2.
2. Wilayah Kecamatan Pembantu seluas 5.344 Ha2.
Dari 8.697 Ha2, luas Wilayah Kecamatan Induk dan Perwakilan IV Angkat Canduang tersebut terdiri dari 30 desa yang meliputi 17 desa berada di Kecamatan Induk dan 13 desa berada di Kecamatan Pembantu.
Batas Wilayah
Kecamatan IV Angkat Canduang mempunyai batas-batas, sebagai berikut :
* Utara : Kecamatan Baso dan Kecamatan Tilatang Kamang
* Selatan : Gunung Merapi dan Kec. Banuhampu Sungai Puar
* Timur : Kecamatan Baso dan Kabupaten Tanah Datar
* Barat : Kota Bukittinggi dan Kecamatan Tilatang KamangIV Angkat Canduang adalah kecamatan di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Kecamatan ini terletak di dataran tinggi Agam, yang bergelombang dengan ketinggian 900 – 1200 meter di atas permukaan laut dengan ibu kotanya Biaro. Jarak Biaro dengan ibu kota Kabupaten Agam adalah 74 km. Luas kecamatan secara keseluruhan, termasuk wilayah Pembantu Kecamatan adalah 8.697 Ha2 yang terdiri dari:
1. Wilayah Kecamatan Induk seluas 3.753 Ha2.
2. Wilayah Kecamatan Pembantu seluas 5.344 Ha2.
Dari 8.697 Ha2, luas Wilayah Kecamatan Induk dan Perwakilan IV Angkat Canduang tersebut terdiri dari 30 desa yang meliputi 17 desa berada di Kecamatan Induk dan 13 desa berada di Kecamatan Pembantu.
Batas Wilayah
Kecamatan IV Angkat Canduang mempunyai batas-batas, sebagai berikut :
* Utara : Kecamatan Baso dan Kecamatan Tilatang Kamang
* Selatan : Gunung Merapi dan Kec. Banuhampu Sungai Puar
* Timur : Kecamatan Baso dan Kabupaten Tanah Datar
* Barat : Kota Bukittinggi dan Kecamatan Tilatang Kamang
Keadaan Alam
Keadaan Alam Kecamatan IV Angkat Canduang pada umumnya datar dan bergelombang, yang mempunyai tingkat kesuburan tanah yang tinggi karena berada di kaki Gunung Merapi.
Sejarah
Nama Kecamatan ini berasal dari nama bekas dua kelarasan yaitu kelarasan IV Angkat dan kelarasan canduang. Kelarasan IV Angkat terdiri dari tujuh Nagari, yaitu:
1. Nagari Balai Gurah
2. Nagari Biaro Gadang
3. Nagari Lambah
4. Nagari Panampung
5. Nagari Ampang Gadang
6. Nagari Pasia
7. Nagari Batu Taba
Sedangkan Kelarasan Canduang terdiri dari tiga Nagari, yaitu:
1. Nagari Canduang Koto Laweh
2. Nagari Lasi
3. Nagari Bukik Batabuah
Sewaktu kedua kelarasan dilebur maka keduanya disatukan ke dalam Onder distrik IV Angkat Canduang yang diperintah oleh seorang Asisten Demang yang berkedudukan di Lasi. Onderdistrik IV Angkat Canduang merupakan bagian dari Distrik Tilatang Kamang IV Angkat Canduang, dimana distrik ini terdiri atas : Onderdistrik Tilatang Kamang, Onderdistrik IV Angkat Canduang dan Onderdistrik Baso yang diperintah oleh seorang Demang berkedudukan di Biaro.
Pada zaman penjajahan Jepang, sekitar tahun 1943 bentuk Pemerintahan IV Angkat Canduang mengalami perubahan dan diganti menjadi dua bagian, yaitu;
1. Nagari Biaro Gadang, Ampang gadang dan Batu Taba tergabung dengan Nagari Kapau dan Gadut dari Tilatang Kamang, dijadikan daerah Koto Bukittinggi yang diberi nama Bukittinggi Shi III yang diperintahi oleh seorang demang Muda yang berkedudukan di Pandan Basasak Kapau.
2. Nagari Panampung, Lambah, Balai Gurah, Lasi dan Bukit Batabuah serta Candung Koto Laweh bergabung dengan Nagari-Nagari dari Kecamatan Baso yang diperintahi oleh Demang muda, berkedudukan di Baso.
Pada bulan November 1947 Nagari Biaro Gadang, Ampang Gadang dan Batu Taba dikeluarkan dari kota Bukittinggi kemudian dimasukkan ke Kabupaten Agam, yang menjadi bagian dari Pemerintahan Kecamatan Baso.
Pada masa Agresi II mulai bulan Februari 1949 Pemerintahan di IV Angkat berubah menjadi dua bagian, yaitu Nagari di sebelah selatan kereta api diperintah oleh Wali Nagari Perang IV Angkat Selatan dibawahi Camat Militer IV Angkat Selatan. Dan Nagari di sebelah utara rel kereta api diperintah oleh Wali Nagari Perang IV Angkat Utara dibawah Camat Militer Baso.
Selanjutnya dengan ketetapan Bupati/Ketua Dewan Pemerintah Daerah sementara kabupaten agam No. 038/I-2/1950 tanggal 22 Juni 1950, kedua Wilayah di atas disatukan kembali menjadi IV Angkat Canduang. Sebagai Kepala Pemerintahannya adalah Asisten Wedana. Kemudian pada tahun 1975 setelah dilakukan Undang-undang No. 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan di daerah maka istilah asisten Wedana diganti dengan Camat selaku Kepala Wilayah.
Kemudian lagi berdasarkan SK Gubernur Tk. I Sumatera Barat No. 337/GSB/1984, dibentuk Pemerintah Perwakilan Kecamatan IV Angkat Canduang, yang membawahi 18 Desa dari tiga Nagari (Canduang Koto Laweh, Bukik Batabuah dan Lasi).
Dengan demikian secara Administratif Pemerintah 18 Desa itu dijadikan oleh Kepala Perwakilan Kecamatan IV Angket Canduang yang berkedudukan di Lasi. Sedangkan pada Kecamatan Induk 33 buah desa dari tujuh Kenagarian, yang penyelenggaraan Pemerintahannya dipimpin oleh Camat Kepala Wilayah yang berkedudukan di Biaro.
Di samping itu dengan adanya kebijakan pemerintah dilaksanakan penataan desa yang sudah ada, maka setelah empat kali dilaksanakan penataan pemerintah Desa, akhirnya Kecamatan IV Angkat Canduang memiliki Desa sampai saat sekarang adalah Kecamatan Induk sebanyak 17 desa dan Kecamatan Perwakilan sebanyak 13 desa.
Sekalipun telah beberapa kali diadakan penataan Desa (dari 51 Desa menjadi 30 desa), namun masih belum dapat memenuhi harapan kita terhadap pelaksanaan Pemerintah Desa. Semoga dengan kondisi dan data yang tersedia hendaknya semakin dapat ditingkatkan segala keterbatasan dan kekurangan yang ada, yang mencakup dari berbagai aspek kegiatan dan kehidupan masyarakat.
Selengkapnya...
Syekh Sulaiman ar-Rasully
Syekh Sulaiman ar-Rasuly dilahirkan di Canduang yaitu sebuah desa terletak lebih kurang 8 kilimeter sebelah timur kota Bukittinggi tepatnya di kaki gunung Merapi. Syekh Sulaiman Ar-Rasuly yang lebih populer dengan sebutan Inyiak Canduang dilahirkan dari pasangan seorang ulama yaitu Angku Muhammad Rasul dan Siti Buli’ah.
Inyiak Canduang tercatat sebagai pemuda yang gigih dalam mengasah bakat keagamaan dan mata spritualnya lewat belajar dari berbagai tokoh-tokoh ulama ternama seperti belajar di pesantren Tuanghu Sami Ilmiyah di Baso kemudian belajar agama dengan Syeikh Muhammad Thaib Umar di Sungayang-Batusangkar. Dan selesai belajar dari Syeikh Muhammad Thaid Umar ini Inyiak Canduang melanjutkan belajar agama pada Syeikh Abdullah Halaban. Dan pada masa-masa pematangan religinya tepatnya pada tahun 1903, Inyiak Canduang tercatat sebagai pemuda yang gigih dalam mengasah bakat keagamaan dan mata spritualnya lewat belajar dari berbagai tokoh-tokoh ulama ternama seperti belajar di pesantren Tuanghu Sami Ilmiyah di Baso kemudian belajar agama dengan Syeikh Muhammad Thaib Umar di Sungayang-Batusangkar. Dan selesai belajar dari Syeikh Muhammad Thaid Umar ini Inyiak Canduang melanjutkan belajar agama pada Syeikh Abdullah Halaban. Dan pada masa-masa pematangan religinya tepatnya pada tahun 1903, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly kembali ke ranah minang pada tahun 1907 setelah memperkaya pengetahuan agama selama tiga setengah tahun di Tanah Suci. Secara histories kembalinya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly ke Ranah Minang merupakan warna tersendiri bagi dakwah Islam serta perjuangan rakyat Minangkabau dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini disebabkan tingkat perjuangan yang dilakoni oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly ini sedikit berbeda dari ulama-ulama minang yang lain seperti halnya Buya Hamka, Syeikh Inrahim Musa yang merupakan golongan ulama muda yang garis perjuangannya bersifat Deaktivasi Kolonial dengan cara membakar jiwa perlawanan rakyat terhadap kolonialisme sedangkan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly garis perjuangannya lebih bersifat developmetisasi basisi perjuangan rakyat lewat berbagai bidang kehidupan sehingga basisi yang dibangun oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly ini menjadi amunisi yang ampuh dalam megusir kolonialisme di Ranah Minang. Hal ini terbukti pada Agresi Militer Belanda I dan II ke ranah minang, dimana peran masyarakat sipil menjadi basis kekuatan dominan dalam membendung Agresi Belanda tersebut. Dalam hal ini Andrey Kahin berkomentar sebagaimana yang dikunilkannya oleh Djoeir Muhammad bahwa “laskar-laskar desa ini menjadi pasukan keamanan yang paling tangguh di daerah”. Aktualnya komentar Andrey Kahin ini menjadi indicator bahwa basis-bais masyarakat sipil telah dibangun oleh tokoh-tokoh pejuang termasuk di dalammya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly merupakan amunisi yang paling ampuh dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarah perjuangan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly adalah sejarahnya mengembangkan masyarakat sipil manangkabau. Secara faktual ada beberapa basis yang dibangun oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sehingga menjadi piranti bagi perjuangan rakyat Sumatera Barat. Perttama : Reformasi sistem pendidikan agama sebagai modal perjuangan rakyat minangkabau dalam meningkatkan sumberdaya manusia. Sistem pendidikan agama di ranah minang pada zaman sebelum datangnya Inyiak Canduang lebih bersifat klasikal dengan metode halaqah dan hanya diajarkan mampuni. Oleh sebab itu Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tampil sebagai reformis dalam pendidikan agama dengan mengarahkan metode pendidikan agama tradisional mengajarkan berbagai ilmu-ilmu agama mulai dengan ilmu-ilmu dasar bahasa arab seperti ilmu alat (nahu, syaraf, balaqah, badi’, ilmu hadits, ilmu qur’an dan mantiq) sampai dengan ilmu-ilmu terapan seperti (tafsir, akhlak, fiqh, tauhid) dengan reference utamanya adalah kitab klasik. Siklus dari reformasi yang dilakoni oleh Inyian Canduang ini ialah terbentuknya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), proses berdirinya Madrasah ini didahului oleh proses musyawarah antara ulama-ulama yang mengaku dirinya sebagai penganut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang bermusyawarah di canduang pada tanggal 5 Mei 1928 dalam musyawarah ini disepakati bahwa ada reformasi sistem pendidikan agama islam dari system klasik ke system Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Diantara ulama yang menghadiri rapat ini ialah : Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly, Syeikh Ababs Al-Qadhi,dari Ladang Laweh Bukittinggi, Syeikh Ahmad dari Suliki, Syeikh Jamil Jaho dari Padang Panjang, Syeikh Abdul Wahid Ash-Shaleh dari Suliki, Syeikh Muhammad Arifin dari Batu Hampar, Syeikh Alwi dari Koto Nan Ampek Payakumbuh, Syeikh Jalaluddin dari Sicincin Pariaman, Syeikh Abdul Madjid dari Koto Nan Gadang dan HMS Sulaiman dari Bukittinggi. Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang pertama didirikan oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly adalah MTI yang ada di Canduang pada bulan Mei 1928, lantas diberi nama dengan MTI CANDUANG kemudian baru diikuti oleh MTI Jaho di Padang Panjang yang dipimpin oleh Syeikh Jamil Jaho, kemudian disusul dengan berdirinya MTI Tabek Gadang Payakumbuh oleh Syeikh abdul Wahid Shaleh. Secara genetif MTI Canduang merupakan poros dari eksistensi MTI-MTI yang tersebar di Nusantara, tercatat sampai sekarang ada sekitar 216 Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang eksis di Sumatera Barat. Langkah yang dilakukan oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam mereformasi sistem pendidikan di Minangkabau merupakan pondasi bagi pengembangan basis perjuangan rakyat yang dipandang sebagai modal untuk mensupply sumberdaya manusia dalam rangka memperkuat kaum cendikia dan ulama yang mampu mengorbankan semangat rakyat dalam mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kedua :Formulasi partai politik sebagai manifestasi Political Power (kekuatan Politik) dalam rangka memperkuat perjuangan kemerdekaan. Pada tanggal 28 Mei 1930 Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly memperkasai berdirinya PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) yang berfungsi sebagai pengelola Madrasah-Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang berada di bawah naungannya. Namun disebabkan gejolak revormasi pada tahun 1946 Organisasi PERTI yang khitahnya bergerak sebagai organisasi sosial keagamaan beralih fungsi menjadi Partai Politik. Peralihan fungsi PERTI ini menjadi partai politik disebabkan argumen KH. Sirajuddin Abbas murid Inyiak Canduang bahwa “Agama Jaga Harus Memberi Arah Pada Perjuangan Politik Bangsa”. PERTI dalam sejarah perpolitikan di Indonesia mempunyai andil yang cukup besar dalam memobilisasi rakyat dalam mensukseskan misi revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Namun seiring dengan waktu, perpecahan dalam tubuh PERTI tidak dapat dihindari karena adanya perebutan kekuasaan, perpecahan ini men gecewakan pendiri PERTI khususnya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sehingga demi menyelamatkan PERTI beliau mengeluarkan Dekrit pada Tanggal 1 Mei 1969 agar PERTI kembali kepada khittahnya sebagai organisasi yang bergerak di bidang social dan keagamaan. Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tercatat sebagai negarawan yang mempunyai visi yang tajam tentang organisasi kemasyarakatan dalam rangka mengemban misi kemerdekaan Indonesia, karir politik Inyiak Canduang ini dimulai pada tahun 1918 hal ini terbukti dengan jabatan yang dipangkunya sebagai presiden anak cabang Serikat Islam untuk kabupaten Agam. Karir Politik Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly berlanjut pada masa pendudukan Jepang, pada masa pendudukan Jepang kedudukan partai-partai Islam terancam pupus disebabkan intrik Jepang yang berusaha melenyapkan Partai-Partai Islam yang mereka pandang sebagai basis perjuangan rakyat Minangkabau. Dan intrik Jepang ini sempat terlaksana dengan cara meleburkan partai-partai islam yang ada di Sumatera Barat, hal ini dapat kita amati dari terbentuknya Majelis Islam Tinggi Minangkabau (MTIM) pada tahun 1943, dimana Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly di serahi sebagai ketua umum dan A. Ghaffar Jambek sebagai ketua I, HMD Panglimo Kayo sebagai sekretaris umum, MR. Mahmud Yunus memimpin Dewan Pengajaran, AR. Sutan Mansur mewakili Muhammadiyah, sedangkan H. Sirajuddin Abbas mewakili PERTI. Pada zaman kemerdekaan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sempat diserahi tugas oleh Soekarno sebagai anggota konstituante RI, dan di tempatkan sebagai Dewan Kehormatan dengan menjadi pemimpin sidang pada sidang-sidang konstituante tersebut. Pada tahun 1947 Mr. Sotan Muhammad Rasyid, menyerahi Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sebagai kepala Mahkamah Syar’iyah propinsi Sumatera Tengah dalam rangka mengurusi problematika syar’iyah dan sekaligus ulama yang berperan sebagai pengobar semangat perjuangan rakyat dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda. Ketiga : Mendorong terbentuknya laskar-laskar rakyat yang pada akhirnya menjadi kekuatan dominan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Peran yang dilakoni oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tidak terbatas pada skala sosial dan agama saja, namun juga mendorong lahirnya kekuatan-kekuatan pra-militer yang berfungsi sebagai laskar yang menjaga dan mengawal daerah dimana mereka bertugas. Dalam hal sejarah mencatat peran Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam hal ini berawal ketika Jepang mengusulkan dan berdiskusi dengan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly agar dibentuk laskar-laskar rakyat yang aktualnya Jepang ingin mengambil manfaat sebagai tambahan kekuatan militer dalam rangka menghadapi perang Asia Raya. Terlepas dari itu upaya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam membentuk laskar-laskar rakyat membawa dampak positif yang cukup besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari pendudukan Belanda kembali (Agresi Militer Belanda I dan II) Menyingkapi ususlan Jepang di atas Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly membentuk laskar rakyat Sumatera Barat dan kemudian diusulkan terbentuknya laskar muslim oleh PERTI, Hisbullah oleh Muhammadiyah, Barisan Sabilillah oleh MITM dan disusul dengan terbentuknya GPII, setelah Jepang kalah. Prediksi Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tentang manfaat pembentukan laskar-laskar rakyat ternukti sebagai kekuatan utama yangmembela kemerdekaan Indonesia, hal ini disebabkan karena kemampuan militer yang di dapat dari Jepang menjadi amunisi tersendiri bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly wafat pada tanggal 1 Agustus 1970, wafatnya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly meningkalkan luka yang dalam bagi rakyat Indonesia, karena hilangnya salah seorang pejuang kemerdekaan dan ulama yang kharismatik dari roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian sebagai pejuang dan ulama besar yang memiliki kepribadian yang luhur, garis perjuangannya serta amalannya bagi nusa dan bangsa patut dijadikan teladan bagi generasi muda saat ini. Jasa Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sebagai perintis kemerdekaan dan pengemban agama Islam tidak akan ternilai hanya dengan penghargaan Oranye Van Nassau dari pemerintahan Belanda, serta menobatkan beliau sebagai pahlawan perintis kemerdekaan dan dianugerahi tanda penghargaan sebagai ulama pendidik. Namun yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah dan semua komponen rakyat mengintegrasikan nilai-nilai perjuangan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
Syekh Sulaiman ar-Rasuly dilahirkan di Canduang yaitu sebuah desa terletak lebih kurang 8 kilimeter sebelah timur kota Bukittinggi tepatnya di kaki gunung Merapi. Syekh Sulaiman Ar-Rasuly yang lebih populer dengan sebutan Inyiak Canduang dilahirkan dari pasangan seorang ulama yaitu Angku Muhammad Rasul dan Siti Buli’ah.
Inyiak Canduang berangkat ke tanah suci dengan misi Tafaguh Fi al-Din dengan belajar dan memperdalam ilmu agama pada Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy. Selain pada Syeikh Ahmad Khatib ini Inyiak Canduang juga berupaya memperkaya khazanah pengetahuan agamanya lewat belajar pada ulama-ulama mashur di tanah suci seperti belajar pada Syeikh Mucthar At-Tharid, Syeikh Nawawi Al-Banteny, Sayyid Umar Bajened dan Syeikh Sayid Babas El-Yamani.
Minggu, 30 November 2008
Songket Canduang Tersimpan Di Museum California
Kain tenun tradisional Songket Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), disebut sebagai salah satu tenun terbaik di dunia, namun sudah sangat langka dan ada tersimpang di Museum Tekstil di California, Amerika Serikat, Belanda dan para kolektor.
Pernyataan itu, disampaikan peneliti sekaligus kolektor kain tenun tradisional dunia asal Swiss Ben Hard, kata Direktur Biro Perjalanan Wisata "Sumatera and Beyond", Ridwan Tulus kepada ANTARA di Bogor.
Hal itu disampaikannya, saat mendampingi 15 wisatawan juga kolektor kain tenun tradisional dunia dari Amerika Serikat (AS) ke Canduang, Agam, untuk mengunjungi daerah asal songket Canduang.
Kain tenun tradisional Songket Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), disebut sebagai salah satu tenun terbaik di dunia, namun sudah sangat langka dan ada tersimpang di Museum Tekstil di California, Amerika Serikat, Belanda dan para kolektor.
Pernyataan itu, disampaikan peneliti sekaligus kolektor kain tenun tradisional dunia asal Swiss Ben Hard, kata Direktur Biro Perjalanan Wisata "Sumatera and Beyond", Ridwan Tulus kepada ANTARA di Bogor.
Hal itu disampaikannya, saat mendampingi 15 wisatawan juga kolektor kain tenun tradisional dunia dari Amerika Serikat (AS) ke Canduang, Agam, untuk mengunjungi daerah asal songket Canduang.
Ke-15 kolektor AS itu datang ke Sumbar untuk mengunjungi lokasi pembuatan tenun tradisional Minangkabau dalam paket wisata "10 days from west to north textile tour Sumatra" digelar "Sumatra and Beyond", 27 Agustus hingga 5 September 2008 di Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Ia mengatakan, informasi dari salah seorang kolektor AS itu, yakni Mary Conners asal California menyebutkan di museum tekstil dunia di California tersimpan songket Canduang, sehingga dirinya dan 14 kolektor lainnya tertarik mengunjungi Canduang.
Menurut para kolektor itu, tambahnya, songket Canduang sudah sangat langka dan termasuk yang terbaik di dunia, karena memeliki motif bercerita dan sangat sulit dalam pembuatannya.
Kain tenun tradisional Songket Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), disebut sebagai salah satu tenun terbaik di dunia, namun sudah sangat langka dan ada tersimpang di Museum Tekstil di California, Amerika Serikat, Belanda dan para kolektor.
Pernyataan itu, disampaikan peneliti sekaligus kolektor kain tenun tradisional dunia asal Swiss Ben Hard, kata Direktur Biro Perjalanan Wisata "Sumatera and Beyond", Ridwan Tulus kepada ANTARA di Bogor.
Hal itu disampaikannya, saat mendampingi 15 wisatawan juga kolektor kain tenun tradisional dunia dari Amerika Serikat (AS) ke Canduang, Agam, untuk mengunjungi daerah asal songket Canduang.
Ke-15 kolektor AS itu datang ke Sumbar untuk mengunjungi lokasi pembuatan tenun tradisional Minangkabau dalam paket wisata "10 days from west to north textile tour Sumatra" digelar "Sumatra and Beyond", 27 Agustus hingga 5 September 2008 di Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Ia mengatakan, informasi dari salah seorang kolektor AS itu, yakni Mary Conners asal California menyebutkan di museum tekstil dunia di California tersimpan songket Canduang, sehingga dirinya dan 14 kolektor lainnya tertarik mengunjungi Canduang.
Menurut para kolektor itu, tambahnya, songket Canduang sudah sangat langka dan termasuk yang terbaik di dunia, karena memeliki motif bercerita dan sangat sulit dalam pembuatannya.
Atas informasi ini, kata Ridwan, Sumatra and Beyond optimis paket wisata "10 days from west to north textile tour Sumatra" akan sangat menarik bagi kolektor dunia untuk mengunjungi Sumbar.
"Ini potensi wisata luar biasa yang selama ini belum tergarap dan calon wisatawannya cukup banyak, terutama dari AS dan Eropa berupa para kolektor yang merupakan kalangan ekonomi papan atas," tambahnya.
Selengkapnya...









